Kamis, 20 Juni 2013

JADILAH PAHLAWAN


"I believe there's a hero in all of us, that keeps us honest, gives us strength, makes us noble, and finally allows us to die with pride, even though sometimes we have to be steady, and give up the thing we want the most. Even our dreams," Aunt May.

Kutipan ini menurut saya adalah kutipan terbaik dalam sekuel Spiderman. Banyak orang yang karenanya menganggap Ibu Rosemary sebagai Aunt May terbaik dibanding pemeran lainnya. Entah itu dari segi pemain ataupun cerita, namun bukankah pernyataan di atas sangat menyentuh, bukan? "Pahlawan" dalam diri setiap orang, adalah suatu kebenaran yang menuntut pengorbanan dan pembuktian.

Seorang pahlawan tidak akan melakukan sesuatu untuk dirinya sendiri. Justru karena ia melakukan satu atau banyak hal untuk orang lain, bahkan banyak orang, makanya orang itu disebut sebagai pahlawan. Akan tetapi, ada harga yang harus dibayar oleh seorang pahlawan, ia mungkin tidak dapat menikmati hidupnya sendiri, dan belum tentu semua orang disenangkan atau mendukungnya setelah apa yang diperbuatnya. Peter adalah contohnya. Hidup sebagai Spiderman justru membuat mahasiswa jenius ini selalu ketinggalan pelajaran, dipecat dari beberapa pekerjaan, tidak dapat mengungkapkan isi hatinya kepada gadis yang dicintainya. Kenapa? Karena ia sibuk menolong banyak orang, dan tidak mungkin baginya menempatkan orang-orang yang dicintainya dalam bahaya jika saja musuh-musuhnya tahu tentang dirinya.

Ada harga besar yang harus dibayar, dan itu membuat sang pahlawan justru "sakit". Nah, apakah kita sanggup menanggung semua itu? Apakah kita rela hidup kita "ruwet" akibat kita sering memprioritaskan kepentingan orang lain?

Pilihan yang baik dan yang benar seringkali tidak mudah, namun jika kita memilih untuk menjadi "hero" dalam perjalanan hidup kita yang singkat ini, maka itu adalah pilihan yang berani dan patut diapresiasi. Jalannya memang tidak mudah, namun melakukan yang benar dan berusaha hidup tidak hanya untuk diri sendiri, melainkan untuk orang lain juga, akan membuat hidup kita ini semakin berarti. Sekalipun ada harga yang harus dibayar, dan ada mimpi yang harus dikorbankan, tapi jika itu yang harus kita ambil, yakinlah... itu tidak akan sia-sia.

Senin, 10 Juni 2013

UNTUK YANG KITA SAYANGI


"Obliviate," Hermione Granger.

Gambar di atas adalah salah satu adegan yang tidak dapat membuat saya berhenti menangis. Hermione dalam kesedihannya, terpaksa mengucapkan mantra penghilang memori kepada kedua orang tuanya. Dengan sadar, ia membuat orang tuanya melupakan bahwa dirinya pernah ada dalam kehidupan mereka. Semuanya karena semata-mata ia ingin melindungi mereka, hanya untuk melindungi mereka.

Hermione yang menyadari bahwa dengan sekembalinya Voldemort, rumah bukan lagi tempat yang aman baginya. Ia mungkin bisa masih bisa melindungi dirinya sendiri, tapi tidak dengan kedua orang tuanya-mereka hanya muggles, orang biasa. Mengetahui bahwa ia harus menghilangkan jejak apapun yang dapat menarik para Pelahap Maut, ia memilih untuk menghapus segala ingatan tentang dirinya di rumah itu, termasuk dari ingatan kedua orang tuanya.

Keputusan Hermione untuk menghilang dari kehidupan orang tuanya adalah keputusan terbaik. Banyak nyawa yang harus dipertaruhkan kemudian, dan dia tahu di tidak bisa tetap ada di sana untuk melindungi mereka. Bahkan, mungkin dia juga sadar bahwa belum tentu ia dapat kembali hidup-hidup dari pertempuran yang harus dihadapinya. Akhirnya, untuk meniadakan rasa sakit yang nantinya mungkin muncul dalam hati kedua orang tuanya karena kehilangan dirinya, lebih baik jika ia sendiri yang menyimpan memori tentang mereka.

Orang tua adalah wakil Tuhan bagi kita. Dari mereka kita beroleh kasih sayang dan segala yang kita butuhkan untuk mampu menghadapi dunia. Sebaliknya, anak adalah harta tak ternilai yang dititipkan Tuhan kepada para orang tua. Karenanya, tidak akan ada orang tua yang penuh kasih, yang dapat kehilangan anaknya. Jadi, selama masih ada hari, lakukan yang masih bisa kita lakukan untuk orang-orang yang kita sayangi, karena jika tidak, kita akan menyesal karena telah membuang kesempatan-kesempatan itu. Akan tiba waktu di mana kita harus berpisah dengan orang tua atau anak-anak kita, entah itu hanya untuk sementara atau untuk selamanya. Yang pasti, gunakan waktu yang ada ini dengan baik, yaitu untuk menunjukkan bakti atau sayang kita kepada mereka.

Minggu, 09 Juni 2013

KELUARGA YANG SEJATI


"Family isn't whose blood you carry. It's who you love, and who loves you." Bob Ho (Keluarga bukan tentang darah siapa yang mengalir dalam dirimu, namun tentang siapa yang kamu cintai, dan yang mencintaimu.)

Farren, anak perempuan tertua dalam keluarga ini merasa tersisih dan jauh dari anggota keluarga lainnya. Bukan karena ibu yang terkadang bersikap keras kepadanya, bukan juga karena adik-adiknya (khususnya adik lelakinya) yang sering mengerjainya, namun karena ia merasa bukan bagian dari keluarga "anehnya" itu.

Tinggal dalam asuhan orang tua tunggal, Farren serta kedua adiknya, Ian dan Nora, sering bersikap aneh guna mendapat perhatian ibu mereka, Gillian. Dalam hal ini, Farren sering berdandan ala remaja dewasa dengan make up dan baju ketatnya. Apapun yang dikatakan ibunya nyaris tidak didengarkannya. Ketika Bob Ho datang dalam kehidupan mereka sebagai kekasih ibunya, Farren merasa lebih tersisih lagi. Mungkin Gillian memang bukan ibu kandungnya, tapi tetap saja, ia berharap ayahnya akan kembali satu saat nanti, dan tidak akan ada yang dapat mengambil tempat itu darinya.

Dalam petualangannya bersama Bob Ho dan kedua adiknya, Farren menyadari bahwa keluarga adalah satu hal yang berharga. Sekalipun ia dan adik-adiknya beda ibu, sekalipun Bob Ho bukan ayah kandungnya, namun ia bisa merasakan indahnya dan serunya kebersamaan mereka. Dari situ ia belajar, bahwa keluarga tidak harus mereka yang sedarah, namun mereka yang saling mengasihi satu sama lain.

Bagi kita yang memiliki keluarga, kita harus bersyukur atas mereka yang sudah Tuhan berikan untuk ada di sekitar kita, karena tidak semua orang bisa memiliki keluarga seperti yang kita punya. Karenanya, apakah wajar jika kita justru tidak akur, selalu bertengkar, penuh kebencian dengan keluarga kita sendiri? Bagi mereka yang tidak memiliki keluarga, mungkin hari-hari terasa sepi dan menyedihkan. Tapi ingatlah, masih ada kawan dan sahabat yang mendukung dan mengasihi kita, bukan? Apakah mereka tidak bisa menjadi keluarga kita?

Keluarga adalah sesuatu yang sangat berharga, sesuatu yang harus dipupuk dan dukungan, perhatian, dan cinta. Akan tetapi, tidak selamanya keluarga adalah mereka yang sedarah dengan kita. Siapapun mereka, asalkan mereka mengasihi kita dan kita mengasihi kita, mereka adalah keluarga kita. Mereka terlalu berharga untuk dijauhi dan ditinggalkan. Karena itu, hargailah mereka, cintailah mereka, selama mereka masih ada di sisi kita.

Sabtu, 08 Juni 2013

MENGUJI RASA INGIN TAHU


"Curiosity is not a sin.... But we should exercise caution with our curiosity... yes, indeed." Albus Dumbedore (Keingintahuan bukanlah sesuatu salah... namun sesungguhnya kita harus menguji akibat dari keingintahuan kita.)

Sewaktu Dumbledore mengatakan hal ini kepada Harry, saya berpikir bahwa ia sekedar ingin mengingatkan Harry atas segala keingintahuannya. (Waktu itu, Harry "mengintip" memori Dumbledora lewat Pensieve.) Namun kemudian saya berpikir lagi, keingintahuan Harry masihlah dalam tahap wajar, jadi apa yang sebenarnya membuat Dumbledore berkata demikian?

Jika mengingat masa muda Dumbledore, ia adalah seorang anak jenius dan bertalenta dalam hal sihir. Tidak heran jika ia rajin mempelajari, bereksperimen, dan mencari tahu tentang hal-hal seputar "kekuatan yang lebih besar". Memang dalam film tidak banyak diceritakan tentang segala usaha dalam keingintahuan dan pencariannya tersebut, namun ia mengakui bahwa ada masa-masa gelap di masa lalu yang membuatnya kehilangan Ariana Dumbledore, dan tidak akur dengan Aberforth Dumbledore, kedua adiknya.

Ada banyak kasus tentang remaja yang penasaran, ingin tahu tentang rokok, obat-obatan, miras, seks, yang akhirnya kebablasan. Berawal dari rasa ingin tahu ("Benar nggak sih ini berbahaya?"; "Apa bener ya yang dimilang teman-teman kalo ini bikin happy?"; "Ah, temanku nyoba juga ndak ketahuan. Ikutan juga ah."), mereka mulai coba-coba, dan dari coba-coba, mereka mulai ketagihan. Akhirnya, mereka kesulitan untuk melepaskan diri darinya, karena mereka sudah terjerumus terlalu dalam.

Eit... ini bukan terjadi pada remaja saja, semua kalangan juga punya rasa "penasarannya" sendiri. Rasa ingin tahu (yang masih wajar) tentang hal-hal yang baik dapat membawa kita kepada hal yang baik pula. Akan tetapi, berhati-hatilah dengan rasa ingin tahu yang salah, karena siapapun kita, jika terus membirkan rasa itu menguasai tindakan kita, kita bisa jatuh dan terjerumus juga ke dalamnya.

Jumat, 07 Juni 2013

HILANG NAMUN TAK PERNAH HILANG


"Anyway, my mum always said things we lose have a way of coming back to us in the end. If not always in the way we expect." Luna Lovegood (Lagipula, ibuku bilang kalau segala yang hilang dari kita selalu punya cara untuk kembali kepada kita, pada akhirnya... meski tidak selalu dengan cara seperti yang kita harapkan.)

Harry mengalami kesedihan yang mendalam karena satu-satunya keluarga yang diidam-idamkannya, setelah orang tuanya, Sirius Black, mati di tangan Bellatrix. Ayah baptisnya itu mungkin tidak ada hubungan darah dengan Harry, akan tetapi kasih dari keluarga yang diimpikan Harry ada dalam dirinya. Dalam perasaan kehilangan yang begitu besar,  Luna, gadis yang barang-barangnya sering sekali disembunyikan oleh teman-teman asramanya ini, ada sebagai salah satu teman yang menghiburnya.

Memang benar, Harry telah banyak mengalami kehilangan dalam hidupnya, akan tetapi, jika dipikirkan lagi, tidak sedikit juga hal yang diterimanya. Ia memiliki dua sahabat yang setia, Ron dan Hermione. Ia memiliki teman-teman yang mendukungnya, tidak disanksikan lagi. Keluarga Ron juga menganggapnya anggota keluarga. Guru-guru juga banyak yang berdiri di pihaknya, dan masih banyak lagi. Intinya, kehilangan orang tua dengan cara yang tragis tidak membuatnya kehilangan kesempatan untuk mendapatkan keluarga besar yang luar biasa.

Kita mungkin juga mengalami banyak sekali kehilangan, kehilangan yang mengakibatkan luka yang teramat dalam di hati kita. Kita gagal, kita sedih, kita rugi, kita dikecewakan, tapi apakah cerita kehidupan kita berhenti di sana? Tidak, selama masih ada waktu, kita masih memiliki kesempatan untuk memperoleh segala yang hilang itu kembali. Kita memang tidak akan mendapatkan kembali waktu yang sudah terbuang lewat, namun kita punya kesempatan untuk memperbaiki hidup kita dan berusaha untuk bangkit di waktu-waktu berikutnya.

Kehilangan seperti apa yang pernah kita alami? Apapun itu, jangan seberapa banyak kehilangan yang telah kita alami, melainkan fokuslah pada hal-hal yang sudah kita peroleh. Dengan demikian, kita akan bersyukur ketimbang kecewa, bahagia ketimbang bersedih, dan tersenyum ketimbang menangis.